Category Archives: Muamalah

Siapa di Balik Para Kesaktian Para ” Kyai ” ?

  Indonesia adalah tempat yang subur perdukunan, negara ini seolah terbelenggu oleh perdukunan, dari rakyat jelata hingga pejabat tinggi sangat akrab dengan dunia perdukunan.

     jual tanah saja harus pergi ke dukun, mau usahnya lancar, maujabatanya bertahan, mau punya wibawa dan di takuti bawahan harus pergi ke dukun.  di tambah lagi oleh mitos-mitos yang berkembang di nusantara ini, seperti orang hamil harus membawa gunting, angka 13 adalah angka sial, di perparah lagi tayangan mistikdan klenik yang berkembang  pesat di dunia pertelevisian kita, ironinya mendapat dukungan yang luar biasa dari masyarakat.

kiranya seorang setiap muslim pernah mendengar sebuah hadits yang sangat terkenal.di dalamnya rosulullah memberi peringatan yang keras. sabdanya :

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau peramal kemudian membenarkan apa yang dia katakan, maka dia telah kafir terhadap apa (Al-Qur`an) yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Ahmad no. 9171)

apakah kemudian setiap muslim selamat dari tipu daya dukun dan tukang ramal ? bukan setan kalu menyerah begitu saja dengan adanya peringatan  dari al-qur’an dan as sunnah. setan pun mendekati kelompok “putih” lagi pula kalau setan loyo bagaimana setan bisa menipu orang arab yang tahu bahasa arab ? setan kemudian menggunakan senjata talbis (tipuan halus nan samar ) yang lebih halus lagi..

kepal boleh bersurban. baju bisa putih nan panjang menjuatai ke bawah. jidat pun tak kalah gosongya. bahasa arab pun fasih tanpa terbata. tapi hati manusia memang begitu lemah. orang – orang  semacam itu tetap tak otomatis tak selamat dari godaan setan.

sementara lewat orang yang bergelar ajengan, ustadz, atau kyai, setan berinteraksi dengan orang yang sok agamis. sok agamis ? ya, karena beragama tidak scara ikhlas dan mengikkuti rosulullah s.a.w. kyai kalau hanya bisa berceramah tidak bakal laku, semua orang juga bisa ngomong. tetapi ‘ kyai’ yang saktimandraguna, bisa berjalan di atas air, tak mempan sabetan pedang, tak tmnbus pelor senpi, bisa menyembuhkan sekali usapan, mengobati dari jarak jauh mendatangkan uang  cash dalam sekejap dll.

Siapa Di Balik para ‘kyai’

keanehan memang bukan otomatis buruk. kemampuan lura bias juga tidak selalu jahat dan syirik. dalam akidah ahlussunnah wal jama’ah di kenal adanya karamah. kemampuan luar biasa yang di anugerahkan allah kepada hamba yang di kehendaki-Nya, karamah tidak bisa di pelajari. karamah bukan barang warisan. karamah juga tidak bisa di perjul belikan..

kalau ada orang yang beriman dan bertaqwa, meski tanpa gelar ustadz. kyai atau ajengan, mempunyai kemampuan luar biasa tanpa mempelajari dan melakuakan ritual tertentu itulah yang di sebut karamah, insyaallah. sebaliknya meski menggelari dirinya dengan sebutan ustadz, kyai, tuan guru, atau ajengan jika melakukan ritual tak sesuai sunnah, tidak melakukan sholat, atau sholat tapi sekenanya, mengaku punya karamah, menjual karamah { bahas untuk menyamarkanya adalah meminta mahar tertentu }, puas putih, puas ngrowot, puasa ngidang dan pelaku bid’ah lainya, tak lebih dan tak bukan hanyalah dukun yang menyaru.

dukun yang berdandan ala ulama, bersurban bergamis panjang dan bejanggut. tujuanya untuk memperdayai masyarakat awam yang mudah tertipu oleh tampilan fisik. kelompok ini tak lebih dari para rosul ( utusan ) setan. mereka adalah relasi para setan dalam menebarakan kemaksiatan dan kemusyirikan, mereka pula yang menjadi musuh para rosul ( utusan) allah.

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نِبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاء رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.(Q.S. Al-An’am 6:112)

dengan segala macam daya upaya,iblis dan bala tentaranya terus melancarkan makar dan tipu dayanya kepada umat manusia sampai hari kiamat. mereaka mengemas kebatialan dengan kemasan yang indah dan menarik. dan seakan-akan tampak benar dan menarik, demilkaian pula, setan mengemas praktek perdukunan dan sihira dengan istilah-istilah modern dan bernuansa keislaman.

nama yang berbeda tidaklah menjadi soal. selama prakteknya sama seperti layaknya perdukunan dan sihir. maka apapuan julukanya pada hakekatnya mereka itu sama denga dukun atau tukang sihir. sehinga siapapun yang membuka praktek meramal hal-hal yang akan terjadi ( ilmu ghoib ) itulah dukun, walaupun memakai julukan -julukan yang lain yang lebih modern dan islami.

demikian pula sihir, siapa yang mengaku memiliki mantra-mantra tertentu yang tidak di tutnunkan oleh allah dan rosul-Nya yang mampu mendatangkan manfat dan menolak mudhorot itulah yang dinamakan tukang sihir.lebih anehnya lagi transfer jin, transfer jimat atau pengobatan alternatif jark jauh dengan syarat menuliskan sekian tanda tangan untuk jenis penyakit tertentu kemudian di kirimkan kepada dukun.

KYAI DAN TUKANG SIHIR ADALAH PENDUSTA

Allah s.w.t sebagai pencipta dan maha mengetahui segala sesuatu di alam semesta ini telah mendustakan orang mengaku mengetahui alam ghoib

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا, إِلاَّ مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

. (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. ( Qs al-jin ayat 26-27

adapun orang yang mengaku mengetahui hal-hal yang bakal terjadi itu mengklaim rosul ? kalau berani, berarti jelas sang pendusta. bila berkilah, bahwa ia telah mendengar bisikan-bisikan tentang alam ghoib, mak bisa di pastikan itu berasal dari setan, buka dari allah ataupun dari malaikat. Rosulullah s.a.w besabda :

” ikut mendengarakan pencuri berita langit ( dari kalangan jin ) yang saling bertingkat-tingakat sampai ke langit  (dunia ) [ sufyan sang perawi menggambarkan dengan telapak tanganya yang jemarinya saling mengait ]. ketiak di dengar satu kalimat kemudian di sampaikan kepada yang di bawahnya dan yang seterusnya sampai kepada kepda tukang sihir atau dukun. ada anak panah ( dari bintang-bintang ) terkadang dapat mengaenai jin pencuri berita tersebut sebelum disampaikan kepada yang di bawahnya. terkadang pula berhasil sampai ke bawah sebelum anak panah menembusnya. namun berita tersebut sudah di sertai dengan seratus kedustaan.” ( shahih bukhori no. 4426 )

perlu kiranya kita mengingat pesan dari imam al-dzahabi, ” kita banyak melihat orang yang sesat terjerumus ke dalam sihir dan mengiranya sebagai perbuatan haram saja, mereka tidak merasa bahwa itu adalah kekufuran.” ( al-kaba-ir hal. 14 )

karena itu tidak selayaknya seseorang muslim tertipu oleh kemampuan luar biasa  dan anaeh yang di punyai oleh seseorang, meskipun sosok tersebut di gelari ustadz,kyai, atau yang semisalnya. hendaknya dalam masalah tersebut tidak melupakan timbangan al Qur’an dan As sunnah guna menilainya. sekali lagi, jangan terjebak tipu daya setan yang menyamar dalam pakaian kyai !!

Ada beberapa orang kondisi orang yang mendatangi dukun, yaitu :

a. mendatangi dukun kemudian bertanya kepadanya meski tanpa membenarkanya, jika tiadak di maksudakan untuk menjelaskan kesesatan para dukun tersebut di haramkan. sanksinya tidak diterima shalatnya selama 40 hari.

b. bertnaya kepada untuk membenarkanya, hal ini telah kufur kepada allah s.w.t wajib bagi pelakunya untuk segera bertobat dan kembali taat kepada allah ta’ala jika tidak kemudian meninggal maka meniggal pada kekufuran.

c. mendatangi dukun kemudian betanyan kepadanya untuk mengujinya, dalam rangka untuk menjelaskan kesesatanya pada manusia. hal semacam ini tidak mengapa.

syaikh muhammad bin shalih al- utsaimin pernah ditanya sekelompok orang yang ketika memukul tubuh mereka dengan besi dan senjata tajam tidak terluka sedikitpun. merek mengaku sebagai wali-wali allah.

syaikh menjawab ;

orang-orang yang memukul tubuhnya dengan atau selainya tanpa terluka sediktpun tidak serta merta menunjukan bahwa mereka benar dan termasuk wali allah. hal itu juga tidak menunjukan karomah yang mereka punyai. perbuatan semacam ini itu lebih permainan sihir belaka. meraeka telah menyihir pandangan manusia. hal ini dikisahkan oleh allah s.w.t dalam firmanya :

سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ

“… mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mendatangkan sihir yang besar ( menakjubkan ) .” ( Qs. Al A’raf : 116)

tidak di ragukan lagi perbuatan mereka permainan sihir semata, bukan sebuah karomah,

ketauhilah…. semoga allah merahmatimu, sesungguhnya karomah tidaklah di dapati kecuali pda wali-wali allah. mereka adalah orang-orang yang bertaqwa dan berpegang teguh pada agama allah. allah menyifati mereka dalam firma-Nya

أَلآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ اللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُونَ {62} الَّذِينَ ءَامَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ {63}

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang beriman dan selalu bertakwa.”(QS. Yunus: 62–63)

Dari ayat tersebut, wali adalah orang yang beriman kepada Allah dan apa yang datang dari-Nya yang termaktub dalam Alquran dan terucap melalui lisan Rasul-Nya, memegang teguh syariatnya lahir dan batin, lalu terus menerus memegangi itu semua dengan dibarengi muroqobah (merasa diawasi oleh Allah), kontinyu dengan sifat ketakwaan dan waspada agar tidak jatuh ke dalam hal-hal yang dimurkai-Nya berupa kelalaian menunaikan kewajiban dan melakukan hal yang diharamkan.

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, “Allah Ta’ala menginformasikan bahwa para wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa. Siapa saja yang bertakwa ,maka dia adalah wali Allah.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2:384).

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan dalam Syarah Riyadhus Shalihin no.96, bahwa wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa. Mereka merealisasikan keimanan di hati mereka terhadap semua yang wajib diimani, dan mereka merealisasikan amal sholih pada anggota badan mereka, dengan menjauhi semua hal-hal yang diharamkan seperti meninggalkan kewajiban atau melakukan perkara yang haram. Mereka mengumpulkan pada diri mereka kebaikan batin dengan keimanan dan kebaikan lahir dengan ketakwaan, merekalah wali Allah.

Mereka tidak bakal melakukan aksi tipu-tipu denga mengaku-ngaku sebagai wali allah sehing malah menyesatkan manusia dari jalan allah.

*** Diringkas Dari Majalah Fatawa

** DITERJEMAHKAN OLEH AL-USTADZ SA’ID

Iklan

Kuburan Adalah Awal Persinggahan Akhirat

Kuburan bukan tempat peristirahatan yang terakhir sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang, namun ia adalah awal persinggahan akhirat, dan kehidupan yang menentukan nasib hamba.

Hani Maula ‘Utsman berkata, “Utsman bin ‘Affan apabila berdiri di sisi kuburan, beliau menangis sampai basah janggutnya, lalu dikatakan kepadanya, ‘Engkau mengingat surga dan neraka tidak menangis, namun untuk ini anda menangis?’ Ia menjawab, ‘Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ قَالَ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إِلَّا وَالْقَبْرُ أَفْظَعُ مِنْ

‘Sesungguhnya kuburan adalah awal persinggahan akhirat, jika selamat darinya maka yang setelahnya akan lebih mudah darinya, dan jika tidak selamat maka yang setelahnya lebih berat darinya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, ‘Tidak pernah aku melihat pemandangan yang amat mengerikan kecuali (siksa) kubur lebih mengerikan darinya.’” (HR Ibnu Majah)[1].

Ya, bagi orang yang beriman ia adalah tempat beristirahat dari penatnya kehidupan dunia, Abu Qatadah bin Rib’iyy Al Anshari berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرَّ عَلَيْهِ بِجِنَازَةٍ فَقَالَ مُسْتَرِيحٌ وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْمُسْتَرِيحُ وَالْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ قَالَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلَادُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lewat padanya jenazah, beliau bersabda, ‘Ada yang beristirahat dan ada yang darinya beristirahat.’ Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah yang beristirahat dan siapakah yang darinya beristirahat?’ Beliau bersabda, ‘Hamba yang mukmin beristirahat dari kelelahan dunia dan kepenatannya menuju rahmat Allah, sedangkan hamba yang fajir beristirahat darinya para hamba, negeri-negeri, pepohonan dan binatang.’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun bagi orang fasiq terlebih orang kafir ia adalah tempat yang mengerikan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَأَمَّا الْكَافِرُ أَوْ الْمُنَافِقُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ فَيُقَالُ لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ

“Adapun orang kafir atau munafiq, ia akan mengatakan, ‘Saya tidak tahu, aku dahulu hanya mengucapkan apa yang diucapkan oleh manusia.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Kamu tidak mengetahui dan tidak pula membaca!’ Kemudian ia dipukul dengan palu besi dengan sekali pukulan di antara dua telinganya, maka ia menjerit dengan jeritan yang didengar oleh (makhluk) yang ada disekitar kuburan, kecuali jinn dan manusia.’” (HR. Bukhari).

Itu semua adalah kenyataan, bukan hanya omong kosong atau dongeng, setiap kita pasti akan meninggal dan dikembalikan kepada Allah Ta’ala, dan setiap kita benar-benar akan melihat balasan perbuatannya.

Maka, kewajiban kita adalah memikirkan apa yang akan kita siapkan untuk hari itu, ketika malaikat Munkar dan Nakir bertanya kepada kita; “Siapa Rabb-mu.. siapa nabimu.. dan apa agamamu..?” sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

فَأُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّكُمْ تُفْتَنُونَ فِي قُبُورِكُمْ مِثْلَ أَوْ قَرِيبَ لَا أَدْرِي أَيَّ ذَلِكَ قَالَتْ أَسْمَاءُ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ يُقَالُ مَا عِلْمُكَ بِهَذَا الرَّجُلِ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ أَوْ الْمُوقِنُ لَا أَدْرِي بِأَيِّهِمَا قَالَتْ أَسْمَاءُ فَيَقُولُ هُوَ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى فَأَجَبْنَا وَاتَّبَعْنَا هُوَ مُحَمَّدٌ ثَلَاثًا فَيُقَالُ نَمْ صَالِحًا قَدْ عَلِمْنَا إِنْ كُنْتَ لَمُوقِنًا بِهِ وَأَمَّا الْمُنَافِقُ أَوْ الْمُرْتَابُ لَا أَدْرِي أَيَّ ذَلِكَ قَالَتْ أَسْمَاءُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ شَيْئًا فَقُلْتُهُ

“Diwahyukan kepadaku bahwa kamu akan difitnah (diuji) di dalam kuburan seperti atau mendekati fitnah Al Masih Dajjal, akan ditanyakan kepadanya, ‘Apa ilmumu tentang lelaki ini?’ Adapun orang yang beriman atau orang yang yakin akan berkata, ‘Ia adalah Muhammad utusan Allah, datang kepada kami membawa keterangan dan petunjuk, kamipun menjawab seruannya dan mengikutinya, ia adalah Muhammad (3 kali).’ kemudian dikatakan kepadanya, ‘Tidurlah dengan tenang, kami telah mengetahui bahwa engkau meyakininya.’”

Adapun orang munafiq atau orang yang ragu, ia akan berkata, “Aku tidak tahu, aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, maka akupun mengatakannya“. (HR. Bukhari).

Itulah keadaan di kuburan, maka tanyakanlah pada dirimu; apa persiapanmu menuju hari itu? Perbekalan apa yang telah dipersiapkan?? Ataukah dirimu masih dilalaikan dengan mengejar dunia dan perhiasannya?! Padahal harta dunia tidak akan kita bawa ke kuburan.. yang kita bawa adalah amal shalih dan ilmu yang bermanfaat.

Belum tibakah saatnya hati kita merasa takut kepada Allah?? Sampai kapan kita akan terus mengejar dunia dan melupakan kehidupan akhirat?!.. ketika ajal menjemput, disanalah lisan mengucapkan penyesalan.. namun.. penyesalan di waktu itu sudah tidak ada manfaatnya..

Artikel: oleh Moslemsunnah.Wordpress.com

[1] Dikeluarkan oleh ibnu Majah no 4267, At Tirmidzi no 2308, Ahmad dalam Musnad-nya no 454, Al Hakim dalam Al Mustadrak no 1373, Al Baihaqi dalam Syu’abul Imaan no 397, Al Baghawi dalam Syarhussunnah semuanya dari jalan Hisyam bin Yusuf dari Abdullah bin Bahiir dari Hani Maula ‘Utsman. Qultu, “Sanad ini shahih”, Abdullah bin Bahir dinyatakan tsiqah oleh ibnu Ma’in, dan ibnu Hibban berkata, “laa yuhtajju bihi“. Namun beliau memasukkannya dalam kitab Ats Tsiqat, oleh karena itu Al Hafidz berkata, “Pendapat Ibnu Hibban tentang Abdullah guncang”. Namun yang hendaknya diperhatikan adalah bahwa Ibnu Hibban ini termasuk mutasyaddid dalam jarh, dan Ibnu Ma’in adalah ulama mutsyaddid dalam tautsiq, sulit untuk mentsiqahkan perawi, dan apabila beliau men-tsiqah-kan maka kita pegang kuat-kuat. Dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Hisyam bin Yusuf ditanya tentang Abdullah bin Bahiir, ia berkata, “Ia menguasai apa yang ia dengar”.

%d blogger menyukai ini: